Sampaikan Aspirasi, Firmansyah Mardanoes Dukung Aksi Aliansi Mahasiswa Kalbar Tolak UU MD3

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Menanggapi Aksi puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Kalimantan Barat mendatangi Gedung DPRD Provinsi Kalbar di Jalan Ahmad Yani, Pontianak, Senin (26/3/18).

 

Anggota DPR RI Fraksi PPP Dapil Kalimantan Barat Ir Firmansyah Mardanoes MM mengapresiasi aksi damai Aliansi Mahasiswa Kalbar tersebut.

Menurutnya revisi UUD MD3 melanggar hak konstitusional, termasuk juga melanggar putusan MK Nomor 117 tahun 2009.

Ada beberapa pasal yang terkait dengan penguatan kelembagaan DPR dan hak imunitas. Keduanya, masih mendapat sorotan dari masyarakat.

 

Salah satunya pasal tentang adanya pasal penghinaan kepada anggota DPR, DPRD dan DPD di undang-undang itu.

Pada Pasal 73 ayat 3 Undang-Undang MD3 dijelaskan, dalam hal setiap orang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak hadir setelah dipanggil 3 kali berturut-turut tanpa alasan yang patut dan sah, DPR berhak melakukan panggilan paksa dengan menggunakan Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Seperti diketahui tujuan Aksi digelar oleh Aliansi Mahasiswa Kalimantan Barat ini, adalah menolak disahkannya revisi UU MD3, baik terhadap anggota DPRD Provinsi Kalbar maupun angggota DPR RI.

Menanggapi Isu tersebut Firmansyah menegaskan bahwa Tugas DPR adalah menyampaikan aspirasi dan memperjuangkan kepentingan rakyat, berjuang membela rakyat, bukan malah menciptakan jarak dan dinding tebal.

“Kritik ataupun masukan dari rakyat kepada anggota DPR merupakan hal wajar, karena DPR sejatinya memang mengabdi untuk kepentingan rakyat.” ujarnya.

Ia menambahkan PPP konsisten bersama rakyat Indonesia, sejak awal kita menolak dan memilih Walk Out ketika pengesahan UU MD3 yang lalu, kita sangat memahami suasana batin rakyat Indonesia, terhadap gelombang penolakan masyarakat sipil atas perubahan UU MD3.

“Karenanya PPP kembali membuat langkah, memutuskan tidak hadir dalam pelantikan tambahan Pimpinan MPR senin kemarin.” Ungkap Firmansyah

Firmansyah menambahkan bahwa ini merupakan bagian dari kesungguhan PPP menyoal perubahan 4 pasal terkait dengan:

(1) pasal 73, adanya prosedur paksa dengan bantuan kepolisian atas pemanggilan pihak2 lembaga negara atau warga oleh DPR.

(2) pasal 122, kemungkinan pemidanaan masyarakat yang mengkritik DPR dan anggota DPR;

(3) pasal 245, adanya prosedur tambahan melalui Mahkamah Kehormatan Dewan untuk memanggil anggota DPR sehubungan dugaan tindak pidana;

(4) pasal 247a, dan tambahan pimpinan MPR menjadi 8 orang yang akan memboroskan keuangan negara, berikut kecerobohan alokasi pimpinan untuk partai2 yang berpotensi abuse of power secara kolektif.

Dirinya menjelaskan semuanya sesuai dengan arahan ketua Umum kita, Ir.M.Romahurmuziy agar kita sebagai Wakil rakyat, benar benar bersama rakyat, bergerak bersama rakyat, menjadi corong rakyat untuk membangun iklim Demokrasi yang lebih menyejukkan.

” Pesan saya untuk adik-adik mahasiswa, tetaplah berjuang di koridor sebagai bagian dari Agent off Change, Aksi turun kejalan boleh, namun harus tertib dan sama-sama menjaga etika berdemokrasi ataupun berdemonstrasi, bersinergilah untuk menciptakan Aksi Damai Dalam upaya berjuang bersama rakyat,” pungkasnya.

Generasi Millennial Peran Kebangsaan dan Nasionalisme

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID – Ir. Firmansyah Mardanoes MM. Anggota DPR RI F-PPP Menggelar Acara Sosialisasi 4 Pilar di Gedung YPBU (Yayasan Panca Bhakti Utama) Pontianak.

Dalam Diskusi kali ini Firmansyah Mardanoes mengupas dan Membahas Tantangan Generasi Millenial terhadap upaya kesadaran menjaga nilai kebangsaan dan nasionalisme. Beberapa waktu lalu

“Seperti kita ketahui bahwa Generasi Millennial adalah terminologi generasi yang saat ini banyak diperbincangkan oleh banyak kalangan di dunia diberbagai bidang, apa dan siapa gerangan generasi millennial itu?. Millennials (juga dikenal sebagai Generasi Millenial atau Generasi Y) adalah kelompok demografis (cohort) setelah Generasi X, papar Firman dalam presentasi nya.

Selanjutnya ungkap Firman “Peneliti sosial sering mengelompokkan generasi yang lahir diantara tahun 1980 an sampai 2000 an sebagai generasi millennial. Jadi bisa dikatakan generasi millennial adalah generasi muda masa kini yang saat ini berusia dikisaran 15 – 34 tahun”.

Acara yang dihadiri kurang lebih 150 Peserta ini diantaranya adalah Kalangan Mahasiswa AMIK, AMP, APJ, HMJ STAIN Pontianak dan FKPPI Kalimantan Barat ini sengaja dihadirkan di tengah tengah Mahasiswa dan Pemuda dalam rangka membangun sinergitas peran pemuda, Mahasiswa dan Generasi Millenial (Generasi Zaman Now).

Selanjutnya Menurut Firman dalam presentasi nya, bahwa Di Indonesia studi dan kajian tentang generasi millennial belum banyak dilakukan, padahal secara jumlah populasi penduduk Indonesia yang berusia antara 15-34 tahun saat ini sangat besar, 34,45%.

Tahun lalu memang ada sebuah majalah bisnis yang tajuk utamanya membahas generasi millennial, tapi sayang coverage liputanya masih sebatas kaitannya generasi millennial dengan dunia pemasaran, belum masuk secara substansi ke ruang lingkup kehidupan mereka secara menyeluruh.

“Dibanding generasi sebelum, generasi millennial memang unik, hasil riset yang dirilis oleh Pew Researh Center misalnya secara gamblang menjelaskan keunikan generasi millennial dibanding generasi-generasi sebelumnya. Yang mencolok dari generasi millennial ini dibanding generasi sebelumnya adalah soal penggunaan teknologi dan budaya pop/musik. Kehidupan generasi millennial tidak bisa dilepaskan dari teknologi terutama internet, entertainment/hiburan sudah menjadi kebutuhan pokok bagi generasi ini,” terang Firman

Sumber : http://pontianak.tribunnews.com/2018/03/22/generasi-millennial-peran-kebangsaan-dan-nasionalisme.
Penulis: Hamdan Darsani
Editor: Rizky Zulham